Selasa, 27 Juli 2010

KOMODITI dan UANG

Beberapa bagian awal Das Kapital, benar-benar amat sulit dimengerti. Sebagian kesulitan disebab pada gaya Marx yang lebih bersifat Hegelian. Maka itu ia semakin musykil, kebanding bagian yang belakangan. Yang lebih mendasar ialah ia mencoba mengemukakan setiap konsepsi secara urut. Menjelaskannya secara teliti sebelum melanjut. Ini adalah pekerjaan yang hampir-hampir tidak mungkin. (konsep apa yang hendak anda pakai untuk menjelaskan konsep pertama?). Itulah yang membuat bagian-bagian awal Das Kapital amat abstrak. Dibagian paling awal Bab I, Marx sudah mulai mempersoalkan “nilai didalam pertukaran” tanpa sesuatu tegangan dari proses pertukaran yang sebenarnya. Bab II, pertukaran didahulukan. Baru sesudah itu ihwal uang. Sejumlah konsep yang dijelaskan dibagian awal, tidak penuh dapat dipahami guna digunakan pada bagian-bagian yang belakangan. Barangkali terlebih pada pembacaan pertama terhadap bab-bab awal ini dibaca sekilas dan kemudian kembali lagi membacanya.

KOMODITI

I. Dua faktor komoditi : nilai pakai dan nilai

Sebuah sistim kapitalis punya dua wajah. Pertama, ia, suatu sistim produksi komoditi, dimana barang diproduksi dengan kontrol oleh sikapitalis yang mempekerjakan para pekerja. Marx hanya mengupas aspek pertama pada tahap awal bahasanya. Hal pekerja dan sang kapitalis ini baru terdapat dibeberapa bab kemudian.Uang, juga ditempatkan dilatar belakang pada mulanya. Takaran ditampilkan seakan-akan suatu barang ditukarkan secara langsung dengan barang lainnya.

Sebuah komiditi dijelaskan sebagai suatu yang dipertukan dengan atau komoditi lainnya. Semua komoditi punya nilai-pakai, yang memenuhi sejumlah keinginan dan kebutuhan, langsung atau tidak . Sipat kebutuhan itu, pada tahap ini belum relevan dibahas. Disini tidak dipersoalkan penilaian yang bersipat moral. Senjata misalnya adalah pemenuhan kebutuhan masyarakat yang perang dan maka itu mengandung nilai-nilai dan seterusnya.

Perbedaan antar nilai-pakai dan nilai tukar adalah serangkaian perbedaan yang pertama-tama di kaji marx dengan teliti dalam Das kapital ; perbedaan dari aspek-aspek kehidupan manusia yang berlaku umum bagi semua bentuk masyarakat dan perbedaan-perbedaan yang spesifik bagi jenis masyarakat tertentu . Semua masyrakat, penghasil, nilai pakai tertentu yang lainnya, karena manusia butuh makanan, tempat bernaung dan sebagainya.yang harus dipenuhi. Lembaga pertukaran karenanya hanya terdapat pada sejumlah masyarakat dimana komoditi dihasilkan. Tanpa pewrtukaran , tentu tak ada nilai tukar. Semua komoditi mestilah mengandung nilai pakai. Ada banyak barang punya nilai pakai, namun tidak dapat ditukarkan dengan barang lain. Karenanya ia bukan komiditi.

Pertukaran menciptakan hubungan kwantitatif dengan berbagai hubungan komiditi. X unit suatu komiditi dapat ditukarkan dengan y unit komoditi lainnya. Untuk memungkinkan adanya perbandingan kwantitatif mengenai hal ini, Marx menegaskan bahwa kedua komoditi ini mestilah mengandung sejumlah subtansi yang sama bukan merupakan suatu (property) yang bersipat fisik, seperti berat, sebab sesuatu yang bersipat fisik bersangkut paut dengan nilai-pakai komoditi, maka subtansi yang sama dari produk itu adalah hanya produk dari kerja-kerja adalah subtansi dari nilai, seharusnya dibenarkan oleh bagaimana ia dipergunakan marx didalam sistimnya secara keseluruhan.(I)

Berikutnya marx membahas betapa pentingnya nilai itu. Seberapa banyak nilai yang dimiliki oleh suatu komoditi ? katanya, nilai suatu komoditi tergantung pada banyaknya jumlah kerja sosial yang diperlukan yang tercakup oleh komoditi itu. Dan itu adalah lama kerja yang diminta untuk memproduksi komoditi itu, di dalam syarat-syarat kerja yang normal untuk menghasilkannya dan dengan taraf rata-rata keterampilan serta intensitas yang lazim masa itu` (hal nilai sesuatu barang tertentu tidak tergantung pada seberapa waktu kerja dibutuhkan dan berada pada barang tersebut, tetapi tergantung pada lamanya waktu kerja yang secara sosial dibutuhkan nilai itu, dan bersipat soaial, bukan induvidual. Pekerja yang lamban menghasilkan kurang dari pekerja yang cepat..` nilai` adalah istilah yang sepenuhnya bersipat tehnis, tanpa kandungan etika apapun. Manakala sebuah bom dan sebuah lukisan di produksi dengan jumlah kerja sosial yang sama, maka kedua barang itu akan bernilai sama. Disini tidak ada penegasan bahwa kedua barang itu secara moral sama-sama tidak dikehendaki. Marx, tidak secara kebetulan menerangkan bagaimana nilai sesuatu komiditi yang diproduksi bersama-sama dengan komoditi lainnya seperti wol dengan daging domba yang diproduksi melalaui memebesarkan domba. Seberapa banyak kerja yang akan diperuntukkan bagi menghasilkan wol dan seberapa pula untuk dagingn domba ?.

II. WATAK RANGKAP KERJA YANG DIKANDUNG KOMODITI

Beda antara nilai pakai dan nilai tukar kini dapat dilihat melalui perbedaan antara dua aspek kerja : kerja berguna dan kerja abstrak..kerja berguna adalah kerja yang menghasilkan nilai pakai. Itu adalah keharusan alamiah yang abadi yang ditimpakan pada semua masyarakat (hal-42-43). Sebegitu banyak ragam nilai-pakai yang dihasilkan, sebegitu banyak pula ragam kerja berguna dilibatkan untuk memproduksi barang-barang itu. Didalam masyarakat penghasil komoditi terdapat pembagian kerja yang rumit diantara orang-orang yang melakukan bermacam-macam pekerjaan yang saling mempertukarkan produk mereka. Tanpa pembagian kerja tidak akan ada produksi atau pertukaran komiditi. Karena satu-satunya titik pertukaran adalah memperdagangkan satu komiditi dengan komoditi lainnya, maka kerja berguna dapat , pada dasarnya berlangsung lestari tanpa sesuatu pembagian kerja (robinson crusoe with no man Friday).

Dan pembagian kerja dapat terjadi dan ada tanpa mempertukarkan produksi dipasar (didalam masyarakat yang hanya mencukupi kebutuhannya sendiri, misalnya ) ada sebuah ungkapan marx mengenai ` pembagian kerja sosial` yaitu : pembagian kerja sosial antara produsen yang merdeka . Mereka menjual produksi mereka dikalangan mereka sendiri sebagai hal yang ditentang mereka sendiri, sepertinya ia berlaku dikalangan keluarga, pabrik atau suku primitif. Dan marx juga menunjukkan bahwa alam sebagaimana juga tenaga kerja haruslah ada untuk memproduksi nilai pakai. Dan tidak ada kesan yang mengatakan bahwa tenaga kerja adalah sumber daya yang tidak berbantuan bagi kesejahteraan Dalam arti nilai pakai seumumnya.

Bagaimanapun, didalam masyarakat penghasil komoditi, berbagai bentuk kerja berguna mempunyai kesamaan-kesamaan sehingga mereka menghasilkan nilai tukar. Sepanjang tenaga kerja itu menghasilkan nilai, ia dinamakan kerja abstrak, biaya dari otak, syaraf, dan otot-otot…. Kerja manusia seumumunyan, tidak soal nilai pakai apa yang dihasilkannya. ( ia harus menghasilkan nilai pakai apa saja, karena komoditi tidak akan punya nilai-tukar tanpa adanya nilai pakai)

Kerja trampil atau ahli adalah sebuah masalah. Marx membantah bahwa kerja ahli dapat dihitung sebagai berlipat kali kerja sederhana, sehingga kerja ahli dapat dihitung sebagai dua kali kerja sederhana, suatu kerja abstrak. Masalah kunci disini adalah apakah yang menentukan maka sejumlah jam kerja sederhana, sama dengan jam kerja trampil atau jam kerja ahli. Marx lalu menegaskan bahwa penyamaan bukanlah masalah. Karena ia selalu ia begitu, `melalui suatu proses sosial yang berlangsung dibelakang panggung atau produsen` (hal. 44) lewat pertukaran barang hasil kerja trampil dan tidak. ( upah disini, sudah tentu belum menjadi persoalan). Alasan atau sebab-sebabnya merupakansebuah lingkaran (nilai ditentukan oleh isi atau jumlah tenaga kerja, sedangkan ekwipalen jumlah kerja, dihitung dari pemantauan nilai tukar). Pandangan ini telah pernah menjadi sasaran kritik. 3)

Nilai dari suatu komiditi tidaklah tetap untuk sepanjang waktu atau inheren dengan dengan ada didalam komoditi itu sendiri. Manakala produktivitas kerja meningkat, untuk memproduksi sesuatu pobyek, maka kerja yang ia butuhkan menjadi berkurang. Karena itu, nilainya jatuh. Dengan kata lain, nilai yang diciptakan oleh sesuatu jam dari rata-rata kerja, adalah selalu sama, walaupun jumlah nilai yang dihasilkan pada jam itu dapat berubah

Konsepsi nilai yang digelar disini tidak begitu jelas. Apakah sungguh nyata ( dalam sejumlah arti) apa yang diutarakan marx sebagai penemuannya itu? Ataukah ia telah menyimpang dengan cermat, kebanding para pendahulunya ? ataukah ia sebagai konsepsi ( yang ia temukan dan jelaskan) untuk menjelaskan dan menganalisa kapitalisme ? kita dapat membaca teks bukunya dengan salah satu cara.
Didalam setiap masalah, marx tidak menegaskan bahwa barang, sesungguhnya dipertukarkan dalam ratio yang berimbang, sesuai dengan nilai-nilainya yang relatip. Jika, katakanlah, segantung gandum dan sebuah mantel berisi sejumlah kerja sosial yang diperlukan, sama adanya. Karena itu, maka ia tidak dipertukarkan satu lawan satu didalam prakteknya. Didalam bagian-bagian teoritis dari dua jilid pertama, marx secara tersendiri menganggap bahwa harga adalah berimbang dengan nilainya. Dan sebagai penyederhanaan dan didalam jilid bagian dua, ia menerangkan lebih lanjut bagaimana harga-harga dihubungkan dengan nilai. Didalam dua jilid pertama, hal itu dibahas sesempatnya, bersipat agak tidak formal. Disini marx mempersoalkan masalah penyimpangan dari ratoi harga pasar dari ratio nilai.


III. BENTUK NILAI ATAU NILAI TUKAR

Berikutnya Marx membicarakan cara nilai itu menyatakan dirinya kedalam nilai-nilai tukar komoditi. Ia mulai dengan ekuivalensi sederhana dua komoditi dan mengmbangkannya sampai pada ungkapan nilai didalam terminologi harga uang. Kesulitan besar dalam membaca bagian ini melihat betapa repotnya itu. Mengapa maka Marx memberi perhatiaan begitu hebat atas masalah ini ? itu mungkin disebabkan ia merasa berkewajiban untuk menguraikan semua prosudurnya secara menyeluruh karena pencariannya bagi `suatu standar yang tak bermacam-macam` dari nilai. Hal, yang sangat diperhatikan para ahli ekonomi saat itu, yang sebahagian besar kini telah dilupakan orang karena sesunggiuhnya masalah itu lebih sederhana dari pada yang dilihat marx dan generasinya.

Dan adalah penting juga untuk mengingat bahwa setiap harga yang benar-benar menyeleweng dari nilainya, akan ditentang disini. Marx selanjutnya terlibat dengan masalah kwalitatif , yang menyangkut masalah nilai-nilai tukar apa dan dengan unit-unit barang apa ia ditakar. Namun ia tidak memperhatikan masalah kuantitatif, yaitu seberapa banyak suatu barang diperdagangkan dibanding lainnya.

Pertama-tama Marx mengabil kesamaan dari nilai dua komoditi (20 yar linen sama dengan satu baju jas). Kemudian ia memperbedakan bentuk relatif dari nilai relatif dari linen dengan yang lainnya , disamping persamaan relatifnya. Disini jas sebagai suatu unit ukuran dari nilai. Barang-barang itu dapat dipertukarkan ( satu jas sama dengan 20 yar linen).

Kerja, sebagai subtansi nilai tidak tampil pada kedua barang itu, karena pertukaran adalah selalu menyangkut pertukaran dari suatu komoditi dengan yang lain. Maka itu nilai komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan niali-nilai komoditi lain. Nilai linen pada jas dapat berubah karena nilai linen itu sendiri berubah. Atau karena nilai jas berubah, atau karena kedua-duanya berubah.

Menjelang akhir bahasannya mengenai bentuk elementer nilai adalah bentuk frimitif juga, ketika mana produk kerja tampil secara historis sebagai komoditi (hal 16). Penjelasan marx mengenai ini disusun didalam tatanan yang dibimbing oleh logoikaa dan teori. Tapi dalam hal perkembangan sejaraah, pada beberapa kasusnya (hanya beberapa), ia tampak cenderung untuk melihatnya dalam tatanan yang sama. Maka itu nilai komoditi dapat diamati dengan istilah-istilah sebagai pencatat hubungannya dengan niali-nilai komoditi lain. Nilai linen pada jas dapat berubah karena nilai linen itu sendiri berubah. Atau karena nilai jas berubah, atau karena kedua-duanya berubah.

Menjelang akhir bahasannya mengenai bentuk elementer nilai adalah bentuk frimitif juga, ketika mana produk kerja tampil secara historis sebagai komoditi (hal 16). Penjelasan marx mengenai ini disusun didalam tatanan yang dibimbing oleh logoikaa dan teori. Tapi dalam hal perkembangan sejarah, pada beberapa kasusnya (hanya beberapa), ia tampak cenderung untuk melihatnya dalam tatanan yang sama .4)
Masalahnya disini ialah bahwa pertukaran pertama-tama sebagai barter dan kadang-kadang saja.

Didalam sisitim produksi komoditi yang telah berkembang, apa saja dapat ditukarkan dengan sesuatu yang lain. Marx melangkah lebih maju melalui bentuk relatif dari nilai yang dikembangkan` menuju bentuk dari nilai`dimana nilai semua komoditi sisa yaitu ekwivalensi yang universal ` . Pada prakteknya, sejumlah komoditi tertentu secara soial diidentifikasi sebagai ekwivalensi universal dan ia berlaku sebagai uang. Marx menganggap uang itu akan menjadi komoditi dengan sendirinya, karena adanya nialai sebagai hasil kerja. Dizaman Marx, emas berlaku sebagai standar uang dan ia menganggap uang kertas yang tidak dijamin oleh emas, merupakan suatu penyim pangan dari norma . Tetapi dewasa ini , uang sudah tidak bisa mendapat dukungan emas( atau yang lainnya).

IV. PEMUJAAN KOMODITI

Marx melanjut memasuki masalah yang sangat berlainan. Ia bermaksud tidak hanya menjelaskan bagaimana sisitim kapitalis itu bekerja, tapi juga menerangkan mengapa diperlukan penjelasan dan mengapa tidak segera terlihat bagaima sisitim itu bekerja dan mengapa sampai orang perlu membentuk pengertian ( yang tidak cukup) tentang sistim yang telah mereka punyai. Hal yang mendasar disini ialah sistim yang memproduksi komoditi, karena hubungan (ekonomi) antar orang berlangsung melalui jual beli barang-barang. Setiap orang hanya memeperhatikan (berurusan ) barang-barang yang ia telah beli dan telah ia jual.

Berpindahnya posisi harta kekayaan tak bergerak masyarakat keatas barang-barang material, Adalah apa yang oleh marx dinamakan fetishism (dihubungkan dengan pemujaan keagamaan yang memberikan kekuatan supernatural pada sejumlah benda-benda, sebuah fetish). Marx kembali pada hal ini didalam seluruh das kapital, tetapi tanpa hasil yang menarik .

Produksi komoditi telah mensyaratkan adanya suatu pembagian kerja sosial dimana setiap orang bergantungan pada banyak orang lain. Sekali ia berlangsung mapan, maka nilai berbagai komoditi terlihat menjadi bagian atau milik komoditi sendiri. Dan basis sosial dari nilai itu menjadi jelas . uang muncul menjadi inkarnasi yang alamiah dari nilai.(marx, agaknya tak bersemangat mengenai konstruksi uang sebagai suatu bentuk khusus dari hubungan-hubungan nilai, seperti ia kemukakan sudah didalam seksi terdahulu yang ia desaain untuk menguraaikan ilusi ini).

Marx tidak seluruhnya menyangkal berlakunya dampak-dampak yang dibentuk oleh praktek kehidupan sehari-hari. Hubungan-hubungan yang menyambung kerja seseorang dengan yang selebihnya, ia anggap bukanlah hubungan-hubungan sosial yang langsung sipatnya dilapangan kerja mereka, tapi itulah` mereka yang sesungguhnya. Itulah hubungan-hubungan material antar orang dengan orang dan hubungan-hubungan sosial antar barang-barang. (hal 73). `Katagori-katagori dari ekonomo bourjuis adalah bentuk pemikiran, mengungkapkan keadan sosial dari mondisi dan hubungan-hubungan yang pasti, yang secara sejarah ditentukan oleh bentuk produksi (hal 76). Bukanlah rakyat yang buta dan bodoh tapi merekalah yang justru melihat dunia dari sudut tertentu saja, dalam arti hanya dari sudut pengalaman mereka yang langsung. Dan sebagai akibatnya pehaman mereka tewrhadap dunia, terbatas dan tak cukup.

Bentuk-bentuk produksi mudah dipahami, sebahagian karena ia secara inheren kurang kacau dan sebagian lagi karena kita melihat produksi dari luar. Didalam masyarakat –masyarakat feodal di abad-abad pertengahan misalnya, kerja dikerjakan oleh budak diperkebunan para bangsawan yang sepenuhnya dapat dilihat dan tak seorang pun dapat menyaksikan apa yang terjadi. Perbandingan antar berbagai masyarakat sudah tentu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kapitalisme itu tidak alamiah dan abadi. Namun dalam hal-hal yang sfesifik, yang secara historis terbatas bentuk organisasinya merupakan tema yang akan kembali didalam Das Kapital.

Melihat kembali pada tema pokok Bab Satu ini, tujuan-tujuan Marx sudah dapat terlihat gartis-garis besarnya. Pertama, Ia inigin mempertunjukkan bagaimana sistim ekonomi itu bekerja dalam arti proses material dari produksi nilai-pakai. Kedua, Ia akan memperlihatkan bagaimana produksi nilai pakai itu dikontrol oleh proses produksi nilai tukar ( atau, didalam masyarakat kapitalis penuh oleh nilai-nilai atau laba) dan akan ia jelaskan betapa nilai tukar dan nilai lebih itu adala hasil istimewa , suatu bentuk sfesifik yang historis dari organisasi sosial. Ketiga, Ia ingin menjelaskan bagaimana ekonomi itu muncul sesungguhnya pada perorangan ( individual) yang terlibat . Ke empat , ( yang ini sulit muncul sejauh ini ) ia ingin melacak asal usul sejarah dari kapitalisme dan perkembangannya selanjutnya ia ingin memproyeksikan bahwa perkembangan itu akan meramalkan penggulingan kapitalisme dengan oleh sosialisme .

PERTUKARAN

Pertukaran komoditi adalah suatu transaksi antar para pemilik komoditi. Didalam Bab I, secara abstrak tapi, tanpa suatu bahasan dari proses sepenuhnya. Pada Bab ini ia memperbaiki kekurangan-kekurangan pemilik dari komiditi beserta barang-barang yang tidak akan dipakainya , melepas atau menjualnya atau menukarnya dengan barang-barang yang akan memenuhi kebutuhannya.

Pertukaran hanya dapat terjadi apabila masing-masing pihak mengakui fihak lainnya sebagai pemilik komoditi yang diperdagangkan. Pemilikan pribadi atau perorangan adalah prasyrat atau yang kemudian menjadi lebih baik, suatu persekutuan pertukaran ( kedua belah pihak tumbuh bersama). Didalam masyarakat yang sederhana dengan pemilikan bersama atas produk-produk , pertukaraan berlangsung antar komunitas yang terpisah-pisah. Kemudian ia menerobos kedalam komunitas dan kepemillikan bersama menjadi terpecah. Lalu timbullah pertukaran antar perorangan didalam komunitas itu. Pada mulanya, ada saja pertukaran terjadi karena dorongan kelebihan dan kekurangan yang tidak diatur oleh hukum nilai .Pertukaran mana berlangsung tersendiri dan terpisah-pisah. Nilai, menjadi prinsip pengaturan pertukaran. Dan sebagai produksi komoditi ia lalu menjadi bentuk organisasi yang dominan didalam komunitas . Begitu pemilikan dan pertukaran komoditi menjadi universal dan teratur, lalu timbullah keharusan praktis untuk mengukur nilai dengan ekwivalensi yang universal. Dari sini muncullah uang. Tidak ada gunanya untuk menjelekkan uang dalam masalah-masalah sosialnya. Atau mengusulkan penoiadaan uang tanpa meniadakan pertukaran komoditi. (seperti dilakukan kaum sosialis di masa Marx). Uang diperlukan oleh persekutuan pertukaran dan orang tak dapat menghapuskannya tanpa menghapus yang lainya. Logam-logam mulya sangat cocok berperan sebagai komoditi uang, karena ia uniform dan dapat dipecah. Marx disini kembali menekankan emas sebagai komoditi seperti yang lainnya. Ia tidak punya nilai karena ia dipakai sebagai uang, tapi karena diperlukan kerja untuk menghasilkannya.



Uang atau Sirkulasi Komoditi

I. Ukuran dari NILAI

Apabila uang digunakan sebagai ukuran nilai, tidaklah diperlukan adanya emas yang sesungguhnya (seperti kita dapat mengatakan sesuatu itu sekaki panjangnya tanpa memegang ukuran yang sekaki panjangnya). Tapi, bagaimanapun, nilai dari komoditi dinyatakan dalam istilah-istilah kuantitas emas secara fisik. Misal, seton besi dapat sama nilainya dengan (berisi tenaga kerja sebanyak) dua ons emas. Karena persamaan mungkin, maka emas sendirei punya nilai.

Pada prakteknya, harga atau nilai tidaklah dinyatakan dalam ons emas, tetapi di dalam unit-unit yang konvensional seperti pound sterling, dollar, francs dan sebagainya. Didalam sistem yang berdasar pada emas, standar harga (misalkan pounsterling) adalah nama yang diberikan sejumlah emas tertentu secara fisik. Di Inggris di zaman Marx, satu ons emas sama dengan pounsterling 317s 10,5d. Sehingga satu ton besi sama nilainya dengan dua ons emas. Nilainya dapat dinyatakan dengan pounsterling 715s 9d (=2 x Pounsterling 317s 10,5d ). Perubahan nilai emas tidak akan merubah standar-standar harga, tapi ia akan merubah nilai yang ia wakili. Difinisi yang legal dari standar harga di fihak lain, tidak akan merubah nilai sesungguhnya dari sesuatu apa saja. Ia hanya menentukan nama dari unit ukuran..

Harga-harga uamha dapat naik atau turun, baik karena nilai komoditi yang terkait yang berobah, atau karena perobahan nilai emas. Harga komoditi juga dapat menyimpang dari ekwivalensi emas karena nilainya. Sebuah sistem produksi komoditi tidaklah dikontrol oleh kekuasaan sentral apapun dan mekanisme pasar memerlukan fluktuasi harga. Kelebihan produksi akan mengoreksinya dan akan membawa harga-harga menurun. Pada beberapa tulisan awal Marx, masalah yang ia kemukakan, jelas. Ia mengkritik ide bahwa harga-harga haruslah sedikit ditetapkan supaya cocok dengan nilai-nilainya. Hukum-hukum dari sistem pasar “memaksa diri mereka sendiri hanya sebagai alat dari ketidak teraturan yang tanpa hukum sehingga mengkonpensasi satu sama lain” (hal.102)

Sebuah catatan tertang terminologi disini dapat menghindarkan kekacauan kemudiannya. Orang tidak seharusnya secar kaku mengatakan bahwa sesuatu komoditi punya nilai x pounsterling, tetapi katakanlah bahwa nilainya sama dengan yang berisikan sejumlah emas yang diwakili oleh x pounsterling. Substansi nilai adalah kerja, bukan emas. Marx kadangkala (tidak selalu) sangat berhati-hati menguraikan hal-hal ini. Sebuah pernyataan bahwa harga-harga adalah (atau tidak) sama dengan nilai-nilai, atau seimbang dengan nilai-nilai, seharusnya dibaca bahwa harga-harga uang sama cocok (atau tidak cocok) dengan nilai yang sama. Sebagaimana diperlihatkan Marx didalam Bab1, ada soal apa maka seberapa banyak sebuah komoditi dipertukarkan dengan yang lainnya.

Apabila pemilik komoditi menjual komoditinya dan lalu membeli sesuatu yang lain, ia pertama-tama mendapatkan uang. Disini uang lalu menjadi seperti alat sirkulasi. Marx mengungkapkan hal itu dalam rumus C-M-C. Rumus itu memperlihatkanperubahan yang beruntun dari nilai-nilai yang dimiliki seseorang. Mula dengan komoditi (C), lalu ditukar dengan uang (M) dan selanjutnyaditukarkannya lagi dengan berbagai komoditi (C, yang kedua). Harga yang dapat diperoleh penjual; dari produk yang dijualnya ditentukan oleh persaingan di pasar. Artinya, oleh suatu proses sosial yang bebas dari keinginan orang perorangan tertentu.

Apabila pemilik komiditi menjual komoditinya seluruhnya , ia harus menemukan pembeli yang punya uang. Pembeli ini, pada gilirannya mendapatkan uang dengan menjual ia punya produk kepada orang lain dan begitu seterusnya . setiap pertukaran yang sederhana selalu berkaitan dengan orang orang lain, yang membuat komoditi beredar .

Sesudah menggambarkan bagaimana komoditi itu beredar , marx disamping menerima juga menolaknya. Hukum –hukum saya ( sebagaimana ia menamakannya kemudian )…. Dogma yang kekanak-kanakan dan, karena setiap pembelian adalah penjualan, maka itu, sirkulasi komoditi memerlukanekwilibrium atau keseimbangan dari pembelian dan penjualan. ( hal 113) .Jika ini benar, itu akarnya berarti suatu kelebihan produksi, pada umumnya ( relatip hubungan permintaan dengan permintaan ) akan menjadi tidak mungkin. Maka itu tidak akan ada apa yang disebut `krisis. Hal yang akan dibahas Marx kemudian.

Apa yang telah dikatakan hukum saya pada umumnya telah diterima oleh para ahli ekonomi non Marxis sampai pada tulisan-tulisan Keynes di tahun 1930 –an tidak dapat disangkal bahwa krisis-krisis muncul. Tapi pada umumnya diangaap sebagai campur tangan halus dari mismanajemen keuangan atau kesalahan dalam pengaturan upah dan harga serta sistim pasar.

Marx sudah tentu tidak menyangkal bahwa setiap penjualan berarti juga suatu pembelian . Ia hanya menunjukkan bahwa tidak dengan sendirinya setia calon penjual selalu akan menemukan pembeli . Manakala mereka ingin menyimpan uangnya, yang lain tidak akan menemukan pembeli dan mereka tidak dapat menjual barangnya. Kemungkinan yang logis dari padanya adalah munculnya sebuah krisis. Namun Marx juga mengatakan panjang jalan yang harus ditempuh untuk sampai pada suatu krisis yang benar-benar akan terjadi manakala ia telah mempunyai syarat-syaratnya. Komoditi dihasilkan diluar proses sirkulasinya ia akan bertindak selaku sabuk penerima dari produsen ke konsumen. Sementara itu uang ( sabuk penerima ) beredar dari tangan ketangan untuk mengangkutnya dalam sirkulasi bergantung pada volume pertukaran dan harga uang dari komoditi. kemudian Marx mengedapankan masalah kecepatan dari sirkulasi, rate dari uang yang beredar sebagai paktor penentu tambahan dari permintaan jumlah uang untuk sirkulasi. Jika uang yang beredar dua kali lebih cepat, maka hanya setengah dari permintaan uang untuk sirkulasi – bagi barang-barang yang tersedia untuk sirkulasi itu.

Seandainya nilai emas jatuh, sebab ia bisa di produksi secara lebih murah, maka lebih banyak emas yang diperlukan untuk mewakili nilai yang sama ( harga-harga dalam bentuk emas akan menjadi lebih tinggi ), sehingga lebih banyak uang diperlukan dalam sirkulasi. Bagaimana maka menjadi begitu ? Mula-mula , produksi emas murah, tetapi harga uang tetap seperti sebelum-sebelumnya. Sehingga lebih banyak emas di produksi dan dipertukarkan untuk komoditi lain. Permintaan ekstra ini mendorong naiknya harga-harga . Dan akibat-akibatnya menyebar keseluruh sistim . Lalu harga-harga semakin tinggi . Jumlah uang yang beredar semakin besar . Sampai tercapai keseimbangan baru . Nilai emas dan besarnya volume pertukaran, secara bersama –sama akan menentukan sirkulasi jumlah emas ( uang ) yang beredar . Disini Marx menyerang` teori kwntitas uang ( lebih luas diterima dari pada sekarang ), dimana kwantitas uang beredar nilainya. Menurut sebab dan akibat maka jalan yang lain yang ditempuhnya. Argumentasi Marx, tentu saja hanya diterapkan pada komoditi (emas) uang. Dan tidak pada mata uang kertas biasa yang kini telah tak dapat ditukarkan.

Uang logam, aslinya hanyalah potongan logam-logam mulia yang sudah distandarisasi .Namun ia punya kemungkinan untuk menggantikan logam atau uang kertas yang punya dukungan pemerintah, sehingga ia dapat beredar dan menggantikan kedudukan emas sebagaimana diminta oleh atau dalam peredaran. Manakala sejenis uang kertas dikeluarkan secara berlebihan, maka nilainya da;lam pertukaran akan merosot secara proporsional. Teori kuantitas ini, tampaknya berhasil diterapkan akhirnya, namun hanya untuk uang kertas. tidak emas.

II. Uang

Uang dapat ditimbun (diakumulasi seperti persediaan emas yang statis) tanpa mengganggu sirkulasi, karena emas tetap di produksi dan dapat di peroleh para penimbun didalam pertukaran dengan komoditi lain. Timbunan-timbunan uang itu menjalankan sesuatu fungsi, sebab sirkulasi bergantung pada volume pertukaran dan harga uang dari komoditi. Kemudian Marx mengedapankan masalah kecepatan dari sirkulasi, rate dari uang yang beredar sebagai faktor penentu tambahan dari permintaan jumlah uang untuk sirkulasi. Jika uang yang beredar dua kali lebih cepat, maka hanya setengah dfari permintaan uang untuk sirkulasi- bagi barang-barang yang tersedia untuk sirkulasi itu.

Seandainya nilai emas jatuh, sebab ia bisa diproduksi secara lebih murah, maka lebih banyak emas yang diperlukan untuk mewakili nilai yang sama ( harga-harga dalam bentuk emas akan lebih tinggi ), sehingga lebih banyak uang diperlukan dalam sirkulasi . Bagaimana mereka menjadi begitu ? Mula-mula, Produksi emas murah, tapi harga-harga uang tetap seperti sebelumnya, sehingga lebih banyak emas diproduksi dan dipertukarkan untuk komoditi lain. Permintaan extra ini mendorong naiknya harga-harga. Dan akibat-akibatnya menyebar keseluruh sisitim. Lalu harga –harga semakin tinggi. Jumlah uang yang beredar semakin besar. Sampai tercapai keseimbangan baru . Nilai emas dan besarnya pertukaran baru, secara bersama-sama akan menentukan sirkulasi jumlah emas ( uamg ) yang beredar, Disini Marx menerang teori kuantitas uang` ( lebih luas diterima dari pada sekarang ), dimana kwantitas uang beredar yang menentukan nilainya . Menurut sebab dan akibat maka jalan yang lain yang ditempuhnya. Argumentasi Marx, tentu saja hanya diterapkan pada komoditi (emas) uang. Dan tidak pada mata uang kertas biasa yang kini telah tak dapat ditukarkan.

Uang logam, aslinya hanyalah potongan logam-logam mulia yang sudah distandarisasi . Namun ia hanya punya kemungkinan untuk menggantikan logam atau uang kertas yang punya dukungan pemerintah, sehingga ia dapat beredar dan mengantikan kedudukan emas sebagaimana diminta oleh atau dalam peredaran. Manakala sejenis uang kertas secara berlebihan, maka nilainya dalam pertukaran akan merosot secara proporsional. Teori kuantitas ini, tampaknya berhasil diterapkan akhirnya, namun hanya untuk uang kertas, tidak emas.




Tidak ada komentar: